BAGAIMANA BISA LEBIH SMART, LEBIH CEPAT, DAN LEBIH BAIK?

Agus Santoso
01 Desember 2016 - 08:05
Share with
BAGAIMANA BISA LEBIH SMART, LEBIH CEPAT, DAN LEBIH BAIK?

Perubahan dunia makin cepat! Dimensi waktu kian dipersingkat teknologi. Digitalisasi di setiap lini terus menyerbu tak terelakkan.

Dulu, perlu berhari-hari nunggu surat dari Pak Pos, sekarang dalam hitungan detik udah di genggaman. Dulu, betenya minta ampun saat berngetem dan bermacet ria di angkot, sekarang tinggal klik, layanan ojek mobile siap meluncur.

Inilah rupanya, masa yang dikabarkan oleh Rasulullah SAW 14 abad silam, dimana setahun bagai sebulan, sehari bagai sejam, dan sejam bagai sekejap. Dengan berbagai kemudahan, dimensi waktu terasa semakin cepat.

Bisa jadi, ke depan akan terus semakin cepat. Salah satunya adalah pengembangan sistem aplikasi mobile seperti yang dilakukan oleh www.atommobile.net dan Internet of Things yang makin massiv.

Menurut data Lembaga Peneliti Aplikasi, App Annie, Indonesia masuk peringkat 6 dunia dalam pengunduhan aplikasi mobile dari Google Play Store dan Apple App Store.

Nah, apa jadinya jika di era serba cepat ini, kita masih bertahan dengan cara-cara lama? "Gila! Jika ingin hasil yang beda, dengan melakukan cara yang beda." Begitu ujar Einstein.

Ada satu lagi pertanyaan mendasar saya, "Untuk menghasilkan lebih banyak, haruskah kita bekerja lebih banyak dan lebih lama?"

Dan entah kenapa, saya lebih suka dengan pemikiran-pemikiran paradoxal. Misal, dalam kesederhanaan, ada kekuatan. Atau makin kecil, makin hebat, dll.

Termasuk pemikiran bahwa produktivitas bukan ditentukan oleh sekadar bekerja lebih banyak atau lebih lama. Alias, "jika bisa lebih cepat, kenapa diperlambat?"

Pemikiran ini dijelaskan dalam sebuah buku karya Charles Duhigg, berjudul, Smarter Faster Better.

Untuk lebih smart, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan Mental Model. Bagaimana caranya?

Mental Model adalah cara kita berpikir dan menyelesaikan sebuah permasalahan. Kita harus memiliki banyak Mental Model.

Caranya, bangun dan ciptakan Mental Model dari perilaku yang diinginkan, latih dan kembangkan terus, sehingga  menjadi salah satu amunisi dari pemgambilan keputusan kita.

"Jika seorang anak diberi sebuah palu, niscaya semua hal akan jadi paku." (Abraham Kaplan). Artinya, mental model anak hanya satu, "bahwa palu adalah alat untuk memaku."

Memiliki banyak mental model akan membuat kita bisa lebih cerdas dalam pengambilan keputusan dalam penyelsaian masalah apapun.

Bayangkanlah mental model seorang Bill Gates, Steve Jobs, Mark Zuckerberg, atau Larry Page misalnya ketika membangun startup. Maka lihat apa yang terjadi.

Memiliki Mental Model banyak, seperti ketika kita memilih menggunakan mobil, motor, sepeda atau perahu ketika mau pergi ke kantor.

Saat jalanan lengang, pilih pake mobil. Saat macet gak karuan, pilih motor. Saat santai dan ingin sambil olahraga, pilih sepeda. Saat banjir melanda, terpaksa pilih perahu. Hehe.

Salam sukses melangit!

Agus Santoso
Seorang Tukang Gali
Follow IG : @agussant_


Total nilai artikel ini

0

/5 dari 0 orang
Artikel tidak pantas ditampilkan?

Berikan Rating dan Komentar disini
Tentukan rating Anda sebelum memberikan komentar
  • KURANG
  • BOLEH
    JUGA
  • CUKUP
    PUAS
  • PUAS
  • SANGAT
    PUAS
Komentar (0)

ARTIKEL LAINNYA

OPTIMISME TAHUN 2016
oleh Agus Santoso pada 04 Oktober 2016 - 00:00
OPTIMISME TAHUN 2016

Akhir Desember 2015 lalu, Menakertrans Hanif Dhakiri merilis data, yang bikin saya miris : “67% Angkatan Kerja Indonesia berpendidikan SD & S...see more