Menerjemahkan Keinginan Pelanggan

Ahmad Syarif
06 Oktober 2016 - 15:55
Share with
Menerjemahkan Keinginan Pelanggan

Dunia kian tidak ada batasnya. Kemajuan teknologi menciptakan keadaan yang tiada berjarak. Bagi dunia bisnis, peluang ini bisa dijadikan sebagai strategi pemasaran.

Keunggulan teknologi memberikan manfaat signifikan terhadap dunia bisnis. Kebutuhan meningkatkan brand, mengangkat pelayanan,dan menunjang efektivitas interaksi kepada konsumen bisa dilakukan melalui optimalisasi teknologi media sosial. Sebuah survei yang dilakukan IBM terhadap lebih dari 1.700 chief marketing officer (CMO) dari 64 negara dan 19 industri termasuk 70 CMO dari ASEAN membuktikan, sebagian besar para pimpinan eksekutif pemasaran terbaik di dunia menyadari ada pergeseran penting dalam pola komunikasi mereka dengan pelanggan.

Sayangnya, IBM malah menemukan 60% CMO ASEAN tidak siap menghadapi tantangan transformasi era digital. Fokus perhatian para pimpinan perusahaan masih berkutat pada memahami pasar. Kekhawatiran ini yang menyebabkan bagian pemasaran di suatu perusahaan tidak siap terhadap perubahan pola komunikasi pemasar dengan konsumen.

“Sebagian besar CMO mengakui bahwa mereka kurang terlibat dalam perbincangan real-time tentang merek atau produk. Mereka masih berfokus untuk memahami pasar, bukan untuk memahami setiap individu pelanggan guna menetapkan strategi,” kata Senior Engagement Manager, Strategy, and Transformation Global Business Services IBM Singapore Charles Kamau Njendu.

Kendati begitu, tingkat interaksi konsumen dengan CMO ternyata semakin tinggi dibandingkan dengan hasil survei sebelumnya.Kesimpulan survei ini membuktikan ada pergeseran CMO dalam kegiatan pemasaran. Lebih tegas lagi, kata Njendu,perusahaan multinasional saat ini tidak lagi sekadar memikirkan bisnis secara matematis, tetapi juga lebih signifikan adalah bagaimana interaksi CMO dengan konsumen di pasar bisa lebih terintegrasi.

Kecanggihan era digital memberi kesempatan besar untuk mengambil peran di dalam kaitannya dengan pemasaran produk perusahaan. Selain itu,para eksekutif perusahaan multinasional juga memusatkan perhatiannya pada strategi pemasaran terpadu (integrated marketing strategy), jasa layanan, serta mengangkat merek (brand). “Selama ini banyak CMO kurang peka terhadap strategi pengembangan produk, penetapan harga, serta sales distribution,” ungkap Njendu.

Sementara itu, menurut pengamat marketing Yuswohady, saat ini perusahaan-perusahaan di dunia termasuk di Indonesia sudah menyadari peran penting seorang CMO sehingga sebagian besar perusahaan di Indonesia mempunyai divisi tersendiri untuk pemasaran. Hal ini terutama untuk perusahaanperusahaan yang memiliki tingkat kompetisi tinggi. “Saat ini hampir semua perusahaan mempunyai CMO karena pada dasarnya yang menghasilkan duit bagi perusahaan adalah inovasi dan pemasaran. Hanya perusahaan yang tingkat kompetisinya sangat kecil yang tidak ada CMO,” ucap Yuswohady.

Yuswohady menjelaskan, peran CMO adalah mencari apa yang diinginkan konsumen. Mereka melakukan survei yang kemudian diterjemahkan kepada strategi dan program. Seorang CMO biasanya membuat kebijakan umum yang kemudian diterjemahkan kepala cabang atau wilayah. “Indonesia ini cukup unik, daerah yang luas membuat banyak perusahaan mempunyai cabang di daerah. Kepala cabang itulah yang biasanya menerjemahkan strategi umum yang telah ditetapkan CMO,” tambah Yuswohady.

Dalam penelitian yang dilakukan IBM menunjukkan, hal yang paling utama bagi CMO, chief executive officer (CEO), dan chief information officer (CIO) adalah “bagian” dari komponen strategi pemasaran dan ketersediaan teknologi. “Dengan teknologi, perusahaan bisa mengolah data dengan cepat,” kata Njendu.

Ada beberapa inisiatif yang bisa dijadikan rujukan,menurut studi IBM, supaya para CMO mampu bersiap diri menghadapi perubahan strategi pemasaran di era digital ini. Pertama, dalam sebuah perusahaan hendaknya para pimpinan eksekutif berusaha menciptakan beberapa tim kecil yang fokus terhadap pelaksanaan peningkatan pemasaran melalui teknologi digital.

“Inisiatif ini bisa dilakukan dengan menetapkan kekuatan berjangka pendek untuk setiap tugas penting dalam pengembangan dan perbaikan. Tim pelaksana bisa mengundang para ahli di bidang pemasaran untuk berpartisipasi meningkatkan agenda pemasaran perusahaan,” papar Njendu.

Selanjutnya tim pelaksana bisa mengidentifikasi peluang bisnis untuk mendapatkan kesuksesan sekecil apa pun, yang paling penting cara ini bisa meningkatkan dukungan untuk menciptakan inisiatif yang lebih radikal.

Kedua, membuat perencanaan waktu dengan rekan-rekan kerja untuk saling berkolaborasi secara aktif,mendiskusikan hal-hal yang berkenaan dengan perbaikan alat teknologi pemasaran, mengevaluasi dampak akuntabilitas keuangan, serta mempertimbangkan strategi memberdayakan karyawan supaya bisa menjiwai karakter perusahaan.

Ketiga, melibatkan diri seperti seorang pelanggan. “Turut gabung dalam percakapan pelanggan di media sosial adalah pengalaman menarik bagi CMO untuk mengetahui tingkat ketertarikan brand yang dimiliki perusahaan, serta lebih bisa dekat dengan konsumen,” lanjut Njendu.

Dengan teknologi, semua urusan pemasaran bisa dilakukan secara online sehingga banyak perusahaan akan sulit menyembunyikan data, termasuk data transaksi. Dari situasi seperti ini, CMO di seluruh dunia termasuk Indonesia menyadari akan pergeseran paradigma bisnis. Mereka mulai bertransformasi bahwa data, teknologi, serta interaksi dengan konsumen merupakan strategi bisnis masa depan. (*/Harian Seputar Indonesia)


Total nilai artikel ini

0

/5 dari 0 orang
Artikel tidak pantas ditampilkan?

Berikan Rating dan Komentar disini
Tentukan rating Anda sebelum memberikan komentar
  • KURANG
  • BOLEH
    JUGA
  • CUKUP
    PUAS
  • PUAS
  • SANGAT
    PUAS
Komentar (0)

ARTIKEL LAINNYA

TUTUP BUKU BULANAN
oleh Ahmad Syarif pada 05 Oktober 2016 - 00:00
TUTUP BUKU BULANAN

Hari ini adalah hari Senin dan bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 2015 yang pastinya bagi setiap entrepreneur memiliki arti tersendiri dimana set...see more